Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Malahayati Sang Admiral (Laksamana) Wanita Pertama Di Dunia

http://santripiss.blogspot.com/2017/04/malahayati-sang-Laksamana-wanita-pertama-pahlawan-aceh.html

Apa itu Laksamana ? Laksamana adalah satu kelompok pangkat perwira tinggi dalam angkatan laut


Kisah ini bergejolak dengan hebat jauh sebelum kisahnya Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia yang juga berasal dari Aceh, dan juga jauh sebelum ceritanya Ibu Siti dari Manggopoh dan Rasuna Said dari Sumatera Barat, jauh sebelum ceritamya Maria Walanda Maramis dari Sulawesi Utara, jauh sebelum masanya Martha Christina Tiahahu dari Maluku, sedikit labih awal dari masanya Nyi Ageng Serang di Jawa tengah, jauh sebelum ceritanya Kartini dari Jawa Tengah dan Dewi Sartika dari Jawa Barat, Dia Bernama: KEUMALAHAYATI. (Sang Admiral Wanita)


Emansipasi sejak jaman penjajahan memang masih belum dikenal, tetapi sejarah telah menorehkan lain, ternyata angin emansipasi lambat laun berhembus menuju Bumi Nusantara. Kehebatan kaum perempuan Melayu-Nusantara telah menginspirasi perubahan peran kaum perempuan di seluruh dunia, terbukti torehan nama kapal perang KRI Malahayati yang diambil dari seorang pejuang perempuan dari Aceh sebagai admiral perempuan pertama di dunia. Beliau juga tercatat dalam sejarah sukses menghalau Portugis dan Belanda masuk ke Aceh, sesuai catatan seorang wanita Belanda, Marie Van Zuchtelen, dalam bukunya berjudul “Vrouwlijke Admiral Malahayati” (Malahayati- Sang Admiral Wanita).

Pahlawan wanita bernama Keumlahayati atau Malahayati mendapat kepercayaan menjadi orang nomor 1 dalam memimpin pasukan militer dari kesultanan Aceh. Malahayati akrab dengan dunia angkatan laut, karena tidak terlepas dari didikan Sang Ayah yang juga seorang Laksamana, bernama Mahmud Syah bin Laksamana Muhammad Said Syah. Dalam darah Malahyati juga mengalir kuat darah seorang kakek yang juga merupakan putra Sultan Salahuddin Syah dan pernah memimpin Aceh pada 1530-1539.

Sebagai pelaut dan pejuang wanita, Malahayati pernah memimpin 2000 orang yang terdiri dari para janda yang suaminya telah tewas sebagai pahlawan di medan laga (mereka dikenal dengan sebutan pasukan Inong Balee) untuk berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda pada tanggal 11 September 1599. Pada pertempuran tersebut, Malahayati berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam sebuah duel di atas geladak kapal. Oleh karena itulah, Malahayati memperoleh gelar laksamana pertama di dunia.


Malahayati hidup di masa Kerajaan (Kesultanan) Atjeh dipimpin oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV yang memerintah antara tahun 1589-1604 M. Malahayati pada awalnya dipercaya sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan luar istana, berpasangan dengan Cut Limpah yang bertugas sebagai petugas Dinas Rahasia dan Intelijen Negara. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Meunasah/ Pesantren, beliau meneruskan pendidikannya ke Akademi Militer Kerajaan, “Ma’had Baitul Maqdis”, akademi militer yang dibangun dengan dukungan Sultan Selim II dari Turki Utsmaniyah. Akademi ini didukung oleh 100 dosen angkatan laut yang sengaja didatangkan dari kerajaan Turki tersebut. Disini pula dirinya bertemu jodohnya sesama kadet yang akhirnya menjadi Laksamana, namun sampai kini nama suaminya belum dapat diketahui dengan pasti. Lulus dari akademi, Malahayati diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud-Dunia Kerajaan Aceh Darussalam, begitu juga dengan suami yang diangkat menjadi Laksamana.

Tidak banyak catatan mengenai sejarah hidup Malahayati, namun terdapat sumber catatan dari seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris, John Davis pernah mengungkapkan fakta bahwa pada masa kepemimpinan militer Laksamana Malahayati, Kesultanan Aceh memiliki perlengkapan armada laut. Malahayati digambarkan pula sebagai sosok yang tegas dan sigap mengkoodinir pasukannya di laut serta mengawasi berbagai pelabuhan yang berada di bawah penguasaan syahbandar, serta secara seksama mengawasi kapal-kapal jenis milik Kesultanan Aceh Darussalam. Namun sayang, suaminya gugur di palagan Selat Malaka ketika melawan Portugis. Setelah suaminya gugur, Malahayati memohon kepada Sultan al-Mukammil, raja Aceh yang berkuasa dari 1596-1604, untuk membentuk armada perang. Prajuritnya adalah para janda pejuang Aceh yang gugur dalam pertempuran di Selat Malaka itu, yang dinamai Laskar Inong Balee dengan anggota berjumlah 2000 orang prajurit.

Bertahap demi tahap, karir Malahayati mulai melesat, saat itu Kerajaan Aceh memang tengah meningkatkan keamanan karena gangguan Portugis. Usul membentuk armada dikabulkan, Malahayati diangkat jadi Panglima Armada Inong Balee atau Armada Perempuan Janda. Pasukan itu bermarkas di Teluk Lamreh Kraung Raya. Benteng Kuto Inong Balee dengan tinggi sekitar tiga meter dibangun. Lengkap dengan meriam. Sisa-sisa benteng itu kini masih bisa dilihat di Aceh. Tak hanya menyusun pertahanan di darat. Pasukan Inong Balee dilengkapi seratus lebih kapal perang. Pasukan yang semula hanya seribu, lama-lama bertambah hingga mencapai dua ribu orang. Armada asing yang melintas di Selat Malaka pun menjadi gentar.

Pada 21 Juni 1599, pasukan ekspedisi dari Belanda yang baru selesai berperang dengan Kesultanan Banten tiba di Aceh. Rombongan yang dipimpin Cornelis dan Frederick de Houtman disambut baik. Namun armada asing itu malah menyerbu pelabuhan Aceh. Karir militernya menanjak setelah kesuksesannya “menghajar” kapal perang Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Cornelis de Houtman yang terkenal kejam. Bahkan Cornelis de Houtman tewas ditangan Malahayati pada pertempuran satu lawan satu di geladak kapal pada 11 September 1599, sedang adiknya Frederich de Houtman tertawan dan dipenjarakan selama kurang lebih dua tahun. Frederich inilah orang Eropa pertama yang menterjemahkan Bijbel kedalam bahasa Melayu. Akhirnya beliau diberi anugerah gelar Laksamana (Admiral). Kerajaan Aceh melawan Laskar Inong Balee pimpinan Malahayati jadi tembok terdepan dan Belanda berhasil dilibas. Belanda kembali menyerang, pada 21 November 1600 dibawah Komando Paulus van Caerden, mereka menjarah dan menenggelamkan kapal-kapal yang penuh rempah di pantai Aceh. Di tahun berikutnya, bulan Juni, Malahayati berhasil menangkap Laksamana Belanda, Jacob van Neck, yang tengah berlayar di pantai Aceh. Setelah berbagai insiden, Belanda mengirim surat diplomatik dan memohon maaf kepada Kesultanan Aceh melalui utusan Maurits van Oranjesent.

Malahayati ternyata juga merupakan sosok negosiator ulung. Pada Agustus 1601, Malahayati memimpin Aceh untuk berunding dengan dua utusan Maurits van Oranjesent, Laksamana Laurens Bicker dan Gerard de Roy. Mereka sepakat melakukan gencatan senjata. Belanda juga harus membayar 50 ribu gulden sebagai kompensasi penyerbuan yang dilakukan van Caerden. Sepak terjang Malahayati sampai juga ke telinga Ratu Elizabeth, penguasa Inggris. Sehingga negeri raksasa itu memilih cara damai saat hendak melintas Selat Malaka. Pada Juni 1602, Ratu Elizabeth memilih mengutus James Lancaster untuk mengirim surat kepada Sultan Aceh untuk membuka jalur pelayaran menuju Jawa.

Malahayati disebut masih memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah Alfonso de Castro yang menyerbu Kreung Raya Aceh pada Juni 1606. Sejumlah sumber sejarah menyebut Malahayati gugur dalam pertempuran melawan Portugis itu. Setelah wafat dalam pertempuran laut Teluk Krueng Raya Malahayati dimakamkan di lereng Bukit Kota Dalam, sebuah desa nelayan yang berjarak 34 kilometer dari Banda Aceh, tidak jauh dari Benteng Inong Balee,. Lokasi makam pada puncak bukit, merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dimakamkan. Penempatan makam di puncak bukit kemungkinan dikaitkan dengan anggapan bahwa tempat yang tinggi itu suci. Beberapa kompleks makam di daerah lain yang terdapat di puncak bukit antara lain: Kompleks Makam Raja-raja Mataram di Imogiri Yogyakarta, makam Sunan Giri di Giri Gresik, Sunan Muria di Kudus, dan Gunung Jati di Cirebon.

Nama Malahayati sangat melegenda karena semangat dan perjuangannya melawan dan mengusir penjajah. Untuk mengenang jasanya sebagai pejuang tanpa pamrih tersebut nama Malahayati diabadikan untuk nama jalan, rumah sakit, universitas di Pulau Sumatera, hingga kapal perang TNI Angkatan Laut. Sejarah sudah mencatat beberapa pelaut wanita yang hebat di dunia ini. Laksamana Malahayati harus dikenang sebagai salah satu pahlawan diantaranya karena perjuangannya yang tanpa peduli harus menderita, dan bahkan sampai kehilangan suami tercinta.

Sumber: Wikipedia,Kaskus

Syekh Qurotul Ain (Syekh Quro) Dan Prabu Siliwangi


Kian santang prabu siliwangi syekh quro

Bicara mengenai sejarah itu sangat penting, apalagi sejarah itu bisa kita ambil hikmahnya dan harus kita jadikan pelajaran. Syekh Qurotul Ain (Syekh Quro) Siapa beliau ini Dan siapa Prabu pemanah rasa (Prabu Siliwangi). Mari kita simak dibawah ini.


Karomah Syekh Quro , Karawang Pendiri Pesantren Pertama di Pulau Jawa Bisa Menjawab Salam Meski Telah Meninggal dunia. Syekh Quro adalah putra ulama besar Mekkah,penyebar agama Islam di negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali Ra.dan Siti Fatimah putri Rosulullah SAW.

Ulama besar ini bergelar Syekh Qurotul’ain dengan nama aslinya Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin. Beliau adalah seorang yang arif dan bijaksana dan termasuk seorang ualam yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya. Konon, beliau pencetus pesantren sebagai candradimuka kaum santri. Beliau adalah leluhur, guru dan teman seperjuangan Walisongo dalam mensyiarkan Islam yang kala itu masih dipenuhi sakralisasi Hindu.

Menurut juru kunci makamn, Habib Rista, Syech Quro sempat membangun masjid dengan nilai arsitektur
tinggi. Masjid itu diberi nama Mangal Mangil Mangup.Konon dengan segala karomahnya, masjid itu dipindahkan secara gaib ke Gunung Sembung Cirebon yang pada masa itu menjadi kediaman Syeh Maulana
Syarif Hidayatullah. Hingga kini banyak orang yang ngalap berkah di makam Syech Quro. Mereka yang mempunyai hajat berziarah ke makam lalu mengambil abu tempat pembakaran kemenyan yang terletak di depan makam.

Selain itu mereka juga membawa air putih supaya didoakan oleh juru kunci makam. “Saya mendoakan hajat para peziarah kepada Allah melalui perantara Syech Quro. Ada yang minta
kenaikan pangkat, dagangannya supaya laris, menyukai lawan jenis atau minta keselamatan,”jelas
Habib Rista. Diuraikannya, abu dari makam Syech quro itu memiliki bermacam-macam fungsi. Jika ingin dagangannya laris maka abu itu disebar di depan took atau warungnya.Kalau ingin karirnya meningkat, abu itu bias disebar di kantor atau perusahaan tempatnya bekerja.

“Sedang jika mencintai seseorang supaya dapat menikahi, abu itu dapat ditaruh di rokok , asapnya
dikepulkan di depan orang yang taksir. Atau disebar di depan rumah orang ygang dituju tersebut,”papar
Rista. Jika keinginan mereka telah terkabul, peziarah itu biasanya melakukan syukuran bereupa nasi lengkap
dengan lauk pauk. Nasi itu lalu diberi doa pula dan sebagian diberikan kepada juru kunci, sebagian
dibawa pulang lagi untuk dimakan bersama keluarga.

Peziarah yang datang tercatat dari berbagai kota di pualu jawa, mulai dari Karawang, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon dan beberapa kota di jawa tengan dan jawa timur. Jika peziarah dari luar kota , mereka bisa menginap di mushola yang berada di komplek pemakaman. “Banyak pula yang sengaja menginap untuk mencari wangsit atau petunjuk,”katanya. Makam Bersinar Keberkahan makam Syech Quro tak lepas dari riwayat penemuannya yang menakjubkan.

Rista menceritakan, pada abad ke-17 terdapat seorang yang bernama Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Penganten Sambri. Beliau keturunan Munding Kawangi dari leluhurnya Kerajaan Galuh Pakuan,Pajajaran. Dia diminta bantuan oleh Kesultanan Cirebon,untuk mencari di mana,adanya atau tempatnya Maha guru leluhur Cirebon yang bernama Syekh Quro. Setelah adanya permohonan dari kesultanan Cirebon tersebut,Raden Somaredja dengan membawa pengawalnya dari kesultanan menuju ke arah barat yaitu ke daerah Cianjur lalu ke Bogor yaitu,ke dusun Citeurep menemui pangeran Sake turunan dari Syekh Maulana Yusuf dari Banten.

Kemudian Raden Somaredja menceritakan maksud dan tujuannya.Di tempat itulah,Raden Somaredja mendapat ilham untuk melanjutkan pencariannya ke daerah Karawang hingga sampailah di Kuta Tandingan. 
Di lokasi tersebut,beliau bertemu dan di sambut baik oleh Eyang Sarpi.Karena Raden Someredja orang yang baik hati dan cerdas, oleh Eyang Sarpi di angkat menjadi menantu atau di
nikahkan dengan salah seorang putri angkatnya yang bernama Nyai Anisa. Pernikahan Raden Someredja dengan Nyai Anisah,di karuniai tiga putra yaitu, Raden Suryadiredja alias Dji’in, Raden Suryadidjaya alias Mian, Raden Suryawidjaya alias Embeh. Dari ke tiga turunan inilah,yang telah menurunkan para pemimpin desa Pulokalapa dan Pengurus Makom Syekh Quro.

Sejak punya anak pertama Raden Suryaredja alias Dji’in,maka Raden Somaredja di sebut Ayah Dji’in dan
Nyai Anisah istrinya di sebut Ma Ini. Eyang Sarpi sebagai mertua dari Raden Somaredja,mengingatkan
agar Raden Somaredja segera melanjutkan perjalanannya. Seterusnya,Somaredja beserta keluarga dan para
pengawalnya,melanjutkan lagi ke daerah Karawang sebelah Utara hingga sampai,ke salah satu perkampungan yang disebut Pulo Kalapa. sampai didesa Pulo Kalapa pada tahun 1850 dan pada waktu itu
lahannya masih rawa-rawa belantara yang selajutnya di olah oleh Raden Somaredja menjadi lahan
pertanian yang subur. “Namun pada sewaktu pengelolaan lahan tersebut,ada sesuatu yang aneh,di suatu lahan yaitu di Tanah Timbul selalu banyak binatang-binatang buas dan berbisa,seperti ular, harimau dan
sebagainya,

"Kisahnya. Bahkan di tempat itu setiap malamnya terlihat oleh Raden Somaredja selalu munculnya cahaya yang bersinar. Para pengikut Raden Somaredja pun ketika membuka lahan tersebut banyak yang sakit. Raden Somaredja semakin penasaran dan berniat untuk meneliti tempat itu. Setelah ada niatan tersebut di setiap tidurnya dia ia selalu bermimpi dan melihat seorang ulama besar yang berpakaian jubah putih memegang tasbih sedang bertawasul dan berdzikir kepada allah SWT . Hingga tiga kali mimpi itu selalu muncul hal yang sama.

Dengan berulangnya mimpi yang sama,lalu Raden Somaredja melakukan istikomah dengan hati yang
tulus dan ikhlas untuk memohon petunjuk dari Allah SWT. Namun sebelumnya beliau melantunkan adzan terlebih dahulu di tempat tersebut, tiba- tiba ada yang menyahutnya, ketika selesai tawasul,di bacakannya
salam, ada juga yang menyahutnya. “ Ketika dilihat,di depannya ada cahaya yang bersinar
dan bersuara serta mengatakan, bahwa beliau adalah Syekh Quro. Tempat itu persis di atas tumpukan bata-
bata yang ukurannya tidak sama dengan bata biasa. Sampai sekarang di sebut Kramat Pulobata,”cetusnya. Atas temuannya itu,Raden Somaredja langsung melaporkan ke keraton Cirebon, sekaligus ingin adanya saksi atas temuan itu.

Sehingga,sesuhunan Cirebon mengutus Juru Kunci Astana Gunung Jati yakni ,Kyai Talka atau Kyai Tolakoh,untuk segera pergi ke tempat dimana temuan Raden Somaredja tersebut. Kyai Tolakoh dan Raden Somaredja sampai di Pulobata, masih menjumpai cahaya yang bersinar. Terlihat oleh keduanya.seseorang yang berpakaian jubah putih memegang tasbih yang sedang berdzikir. Dan ketika diberi salam,bayangan orang yang sedang berdzikir itu menjawab sambil memberikan pesan,“ Jaga dan peliharalah tempat ini, Insya Allah akan membawa keberkahan untuk semuanya“. Setelah itu,bayangan dan sinar tersebut menghilang tanpa wujud. Pada waktu itu,bertepatan pada Hari Jum’at malam Sabtu Kliwon akhir bulan Rewah atau Sya’ban tahun 1277 H / 1859 M .

Sejak itu,Raden Somaredja dan Kyai Talka melaporkan temuan tersebut ke kesultanan. Sehingga para ulama Kraton Cirebon berkunjung ke tempat tersebut untuk melakukan istigosah bersama. Semua sependapat dan meyakini bahwa di tempat itulah keberadaan makam karomah Syeh Quro. Kemudian tempat itu diberi tanda, dengan membawa Batu Jahul atau Batu nisan dari Cirebon. Setiap Jum’at malam sabtu akhir bulan Sya’ban diperingati Haul Syeh Quro. Pada malam Sabtunya,ribuan jamaah mengadakan dzikir atau tawasul akbar . Atas amanah tersebut, Raden Somaredja memelihara tempat itu hingga wafatnya
pada tahun 1916 Masehi. Dia dimakamkan di Dusun Krajan I Desa puloklapa.

Sebelum Raden Somaredja alias Ayah jiin atau Pangeran Sambri yang turunan Munding Kawangi Raja Galuh Pakuan Pajajaran meninggal, beliau memberikan pesan atau wasiat kepada turunanya untuk melanjutkan memelihara makam Syeh Quro. Diuraikan Rista, sejarah ditemukannya makam Syeh Quro ini, di ambil dari keterangan Raden Suryadidjaya alias Bah Mian atau Mail, putra kedua Raden Somaredjan yang ketika wafatnya berusia 105 tahun dan, di makamkan di dekat Makam Syeh Quro Pulobata pada tahun 1950 Masehi.

Ada pun turunan Raden Somaredja yang ke satu Raden Suryadireja ( Dji’in ) dan Raden Suryawidjaya
( Embeh ),setelah wafatnya di makamkan di dekat makam Raden Somaredja di dusun kerajan I desa Pulo
kalapa. Riwayat Syech Quro Rista juga mengkisahkan tentang riwayat Syech Quro. Syceh Quro hidup pada waktu tanah Jawa masih dibawah kekuasaan Negeri Pajajaran dan masih menganut agama Hindu, Rajanya bernama Prabu Anggalarang. Kekuasannya raja tersebut meliputi wilayah Karawang.

Syech Quro datang ke tanah Karawang sekitar tahun 1409 Masehi,Syekh Quro menyebarkan Agama islam di negeri Campa, lalu ke daerah Malaka dan dilanjutkan ke daerah Martasinga Pasambangan dan Japura akhirnya sampai ke Pelabuhan Muara Jati Cirebon. Disini beliau disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati yang masih keturunan Prabu Wastu Kencana.

Masyarakat sekitar msangat tertarik dengan ajaran yang disampaikan oleh Syekh Quro yang di sebut
ajaran agama Islam. Penyebaran agama Islam yang disampaikan oleh syekh Quro di tanah Jawa rupanya sangat mencemaskan raja Pajaran Prabu Anggalarang. Sehingga pada waktu itu penyebaran agama Islam agar dihentikan.Perintah dari Raja Pajajaran tersebut dipatuhi oleh Syeh Quro. Namun kepada utusan dari Raja Pajaran yang mendatangi Syekh Quro,beliau mengingatkan,meskipun ajaran agama Islam dihentikan penyebarannya tapi kelak, dari keturunan Prabu Anggalarang akan ada yang menjadi seorang
Waliyullah.

Beberapa saat kemudian beliau pamit pada Ki Gedeng Tapa untuk kembali ke negeri Campa. Waktu itu pula
Ki Gedeng Tapa menitipkan putrinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang,untuk ikut dan berguru pada
Syekh Quro. Tak lama kemudian Syekh Quro datang kembali ke negeri Pajajaran beserta Rombongan para santrinya dengan menggunakan Perahu dagang. Didalam rombongan adalah, Nyi Mas Subang Larang,
Syekh Abdul Rahman, Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom. Setelah Rombongan Syekh Quro melewati Laut Jawa dan Sunda Kelapa dan masuk Kali Citarum, yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para pedagang ke Pajajaran,akhirnya rombongan beliau singgah di Pelabuhan Karawang.

Mereka masuk Karawang sekitar 1416 M. Karena rombongan tersebut,sangat menjunjung tinggi
peraturan kota Pelabuhan,sehingga aparat setempat sangat menghormati dan,memberikan izin untuk
mendirikan Mushola ( 1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka. “Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syekh Quro menyampaikan dakwahnya di mushola yang dibangunya ( sekarang Mesjid Agung Karawang ),”ujar Rista.


Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya,Nyi Subang Larang,Syekh Abdul Rohman,Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti ,Syekh Abdiulah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan).

Berita kedatangan kembali Syekh Quro,rupanya terdengar oleh Prabu Anggalarang yang pernah melarang penyebaran agama islam di tanah Jawa,sehingga Prabu Anggalarang mengirim utusannya untuk menutup pesantren Syekh Quro.Utusan yang datang itu adalah Putra Mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi). Sesampainya di pesantren putra mahkota tersebut hatinya tertambat oleh alunan suara yang merdu yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang,”dalam mengalunkan suara pengajian Al-Qur’an,” Prabu Pamanah Rasa akhirnya mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Atas kehendak yang Maha Kuasa (Allah Subhanahu Wata'ala), Prabu Pamanah Rasa menaruh perhatian khususnya pada Nyi Subang Larang yang cantik dan merdu suaranya.

Akhirnya Prabu Pamanah Rasa melamar dan ingin mempersunting Nyi Subang Larang sebagai permaisurinya. “Pinangan tersebut diterima tapi,dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus, yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berwirid. Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu haruslah masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam,”katanya. Selain itu,Nyi Subang Larang mengajukan syarat lain yaitu,agar kelak anak-anak yang lahir dari mereka harus menjadi Raja.


Menurut cerita,semua permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa. Atas petunjuk Syekh Quro, Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah. Di tanah suci Mekkah,Prabu Pamanah Rasa disambut oleh seorang kakek penyamaran dari Syekh Maulana Jafar Sidik.Prabu Pamanah Rasa merasa keget,ketika namanya di ketahui oleh seorang kakek. Dan Kekek itu bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan dua kalimah syahadat. Sang Prabu Pamanah Rasa dengan tulus dan ikhlas mengucapkan, dua kalimah syahadat yang makna pengakuan pada Allah SWT,sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan, Muhammad adalah utusannya. Semenjak itulah,Prabu Pamanah Rasa masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau
Tasbeh. Mulai dari itu, Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya. Prabu
Pamanah Rasa segera kembali ke Kraton Pajajaran untuk melangsungkan pernikahannya denga Nyi Subang Larang . Pada tahun 1422 M, pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin langsung oleh Syekh Quro. Setelah menikah Prabu Pamanahah Rasa dan dinobatkan sebagai Raja Pakuan Pajajaran
dengan gelar Prabu Siliwangi. Hasil dari pernikahan tersebut mereka dikarunai 3anak yaitu, Raden Walangsungsang ( 1423 Masehi), Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi), dan Raja Sangara ( 1428 Masehi).

Demikian Pembahasan Mengenai Syekh Quro Dan Prabu Siliwangi, Mudah mudahan para pembaca sekalian bisa mendapat hikmah dari kisah tersebut.

Syi'ir Tanpo Waton KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Mengenang Gusdur

http://santripiss.blogspot.com/2017/04/syiir-tanpo-waton-kh-abdurrahman-wahid.html
Siapa Gusdur Atau Abdurrahman Wahid? Ya, Beliau adalah Mantan Presiden Indonesia Yang Ke 4. 
Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memang fenomenal. Ia dikenal sebagai pribadi yang unik dan otentik, Otentisitasnya ini lah yang membuat ia senantiasa dikenang,  Sosok Gus Dur selama hidupnya juga dikenal sebagai sosok yang kontroversial. Tapi faktanya, Gus Dur merupakan 
Sosok yang dicintai, Saat wafat ditangisi banyak orang.Semua orang berebut mengucapkan selamat jalan 
Dan Orang-orang dari berbagai agama berlinangan airmata dan mendoakan perjalanannya ke alam yang baru. Selamat jalan Gus

Dan untuk Mengenang Beliau Santripiss Posting Syi'iran GusdurYang membuat Hati Bergetar Dalam 2 Bahasa, Versi Jawa dan Indonesia.  Silahkan Dibawah ini

Syi'ir Tanpo Waton KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur

استغفر الله ربّ البرايا # استتغفر الله من الخطا يا
ربّي زدني علما نافعا # ووفّقني عملا صالحا

يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيل الجود والكرم

Versi Bahasa Jawa ↓↓↓

Ngawiti ingsun nglaras Syiiran
Kelawan muji marang Pangeran
Kang paring rahmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mong ngaji Syare'at bloko
Gur pinter ndongeng, nulis lan moco
Tembe mburine bakal sengsoro

Akeh kang apal Qur'an haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe gag di gatekke
Yen isih kotor ati akale

Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepaese gebyare ndunyo
Iri lan meri sugihe tonggo
Mulo atine peteng lan nisto

Ayo sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhite
Baguse sangu mulyo matine

Kang aran soleh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma'rifate
Ugo hakikot manjing rasane

Al-Qur'an Qodim wahyu minulyo
Tanpo ditulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake ing njero dodo

Kumantil ati lan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu'jizat Rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman

Kelawan Allah kang moho suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadhohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas pasan
Kabeh tinakdir saking pengeran

Kelawan konco dulur lan tonggo
kang podo rukun ojo ngasio
Iku sunahe Rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito

Ayo nglakoni sakabehane
Allah kang bakal ngangkat derajate
Senajan ashor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate

Lamun palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Allah swargo manggone
Utuh mayite ugo ulese

Versi Bahasa Indonesia ↓↓↓

Astagfirullah robbal baroya…
Astagfirulloh minal khootooya…
Robbi zidni ‘ilmannaafii’a…
Wawaffikni ‘amalansoliha…

Yarosulalloh salammun’alaik…
Yaarofi’asaaniwaddaaroji…
‘atfatayaji rotall ‘aalami…
Yauhailaljuu diwaalkaromi…

aku mulai, merapalkan syair
dengan memuji, kepada Allah
yang telah memberikan rahmat dan kenikmatan
siang dan malam, tanpa hitungan (2x)

wahai teman-teman; pria, wanita
jangan hanya mengkaji syariat saja
hanya bisa mendongeng, menulis, dan membaca
pada akhirnya, akan sengsara (2x)

banyak yang hafal qur’an-hadits nya
suka mengkafirkan kepada lainnya
kafirnya diri sendiri tidak diperhatikan
kalau masih kotor hati dan akalnya (2x)

mudah terbujuk nafsu angkara
dalam perhiasan gebyarnya dunia
iri dan dengki atas kekayaan tetangga
karena itulah hatinya gelap dan nista (2x

mari saudara, jangan lupakan
kewajiban mengkaji di semua runtutannya
untuk menebalkan iman tauhidnya
bagusnya pesangon, mulya matinya (2x)

yang disebut shaleh, bagus hatinya
karena telah mapan, ilmu sirri-nya (ilmu rahasia ketuhanan)
lelaku tarekat dan ma’rifatnya
juga hakekat telah merasuk rasanya (2x)

al-qur’an qadim, wahyu yang mulia
tanpa ditulis bisa dibaca
itu wejangan guru yang waskita (ma’rifat)
ditancapkan di dalam dada (2x)

menempel, hati dan pikiran
merasuk di badan, semua jeroan (badan bagian dalam)
mukjizat rasul menjadi pedoman
menjadi jalan masuknya iman (2x)

terhadap Allah yang maha suci
harus berangkulan siang dan malam
ditirakati, diriyadhahi (bersusah-payah)
dzikir dan suluk (jalan menuju tuhan) jangan sampai terlupa (2x)

hidupnya tenang, merasa aman
adanya rasa (aman), tanda kalau beriman
sabar, menerima, walaupun pas-pasan
semua itu ditakdirkan oleh Allah(2x)

mari laksanakan, semuanya
Allah yang akan mengangkat derajatnya
meskipun terlihat rendah tata lahirnya
tapi (sebenarnya) mulia kedudukan derajatnya (2x)

apabila meninggal, nanti diakhirnya
tidak kesasar roh dan sukmanya
di gadhang (sukai-angkat) oleh Allah, surgalah tempatnya
tetap utuh mayitnya, juga kafannya (2x)

Demikian Posting Kali ini Mudah-mudahan Bermanfaat Bagi para Pembaca.
Silahkan Share Postingan ini Jika Dirasa Bermanfaat Untuk Dibagikan Melalui Tombol Share dibawah atau di samping

Santripiss

JOKO TINGKIR PERNAH MENJADI RAJA KESULTANAN DEMAK BINTORO KE-5

http://santripiss.blogspot.com/2017/04/joko-tingkir-pernah-menjadi-raja.html

Apakah anda pernah mendengar Joko tingkir atau Jaka tingkir? Ya, Joko tingkir bukan bukan hanya ada
di Tv atau sinetron, Cerita joko tingkir berdasarkan kisah nyata, dan yang pasti dia adalah Orang indonesia.
mari kita simak Jagoan si joko tingkir ini.

Judul diatas adalah merupakan analisa pribadi saya berdasarkan logika dan mungkin tidak mempunyai data bukti sejarah yang akurat. Tetapi terlepas dari hal tersebut pada dasarnya data-data sejarah tentang tokoh JOKO TINGKIR pun sangat sedikit referensinya yang hanya berdasarkan pada naskah kuno dalam bentuk babad/cerita yang kurang kuat untuk dijadikan sebagai data bukti sejarah karena ada pencampuradukan antara fakta dan mitos.

Sosok JOKO TINGKIR yang merupakan Raja dari Kesultanan Pajang dengan gelar SULTAN HADIWIJAYA memang benar-benar sebuah fakta tetapi kisah tentang penyerangan beberapa buaya di Sungai Bengawan Solo yang menurut kisah babad adalah prajurit dari kerajaan siluman buaya dan akhirnya dapat dikalahkan oleh JOKO TINGKIR bahkan ada kisah yang menceritakan bahwa setelah mengalahkan buaya-buaya tersebut akhirnya JOKO TINGKIR berkelahi dan dapat mengalahkan Sang Raja Siluman Buaya yang murka karena prajurit siluman buayanya dipecundangi oleh JOKO TINGKIR sedikit mengandung unsur mitos dari sudut pandang logika.

Berikut ini paparan analisa pribadi saya tentang teori bahwa JOKO TINGKIR PERNAH MENJADI RAJA KESULTANAN DEMAK BINTORO KE-5 :

Menurut data sejarah yang saya jadikan acuan bersumber dari WIKIPEDIA.ORG bahwa sosok JOKO TINGKIR adalah menantu dari Raja Kesultanan Demak Bintoro Ke-3 yaitu SULTAN TRENGGONO yang dinikahkan oleh puteri Sang Sultan bernama RATU MAS CEMPAKA dan kemudian JOKO TINGKIR diserahi jabatan Adipati di Kadipaten Pajang.

Ketika SULTAN TRENGGONO tewas saat memimpin langsung pasukan Kesultanan Demak Bintoro untuk menyerang Panarukan, Situbondo yang saat itu dikuasai Blambangan pada tahun 1546 tampuk kekuasaan Kesultanan Demak Bintoro digantikan oleh putera Sang Sultan yang bernama SUNAN PRAWOTO yang juga merupakan kakak ipar dari JOKO TINGKIR dan SUNAN PRAWOTO menjadi Raja Kesultanan Demak Bintoro ke-4.

Tetapi kemudian pada tahun 1549 SUNAN PRAWOTO dibunuh oleh sepupunya sendiri yaitu ARYO PENANGSANG yang menuntut balas atas kematian ayahnya yang bernama RADEN KIKIN atau yang lebih dikenal dengan PANGERAN SEDO ING LEPEN karena dibunuh oleh keponakannya yaitu SUNAN PRAWOTO dalam sebuah perebutan takhta kerajaan Kesultanan Demak Bintoro untuk memperebutkan menjadi Raja Kesultanan Demak Bintoro ke-3 menggantikan posisi ADIPATI UNUS/PANGERAN SEBRANG LOR yang tewas ketika berperang di Malaka untuk mengusir Bangsa Portugis.

Setelah terbunuhnya SUNAN PRAWOTO maka tampuk kekuasaan kerajaan kosong dan pewaris takhta untuk menjadi Raja Kesultanan Demak Bintoro ke-5 seharusnya memang diberikan kepada anak dari SUNAN PRAWOTO yang bernama RADEN ARYO PANGIRI tetapi karena masih kecil dan belum cukup umur maka tahkta kerajaan pun dialihkan ke adik SUNAN PRAWOTO.

Kandidat pertama adalah suami dari RATU KALINYAMAT yang bernama PANGERAN HADIRI. Tetapi PANGERAN HADIRI disingkirkan dan dibunuh pula oleh pasukan Kadipaten Jipang Panolan yang dibawah komando ARYO PENANGSAN.

Sehinga pilihan kemudian jatuh pada kandidat kedua yaitu suami dari RATU MAS CEMPAKA yang bernama JOKO TINGKIR / MAS KAREBET untuk menjadi Raja Kesultanan Demak Bintoro yang ke-5.

Tetapi sebelum dinobatkan sebagai seorang raja, JOKO TINGKIR mendapat tugas dari keluarga kerajaan untuk membalaskan dendam dan membunuh ARYO PENANGSANG yang mana misi itu juga sekaligus dimaksudkan untuk menyingkirkan ancaman terhadap takhta kerajaan.

JOKO TINGKIR segan untuk berperang menghadapi ARYO PENANGSANG yang masih merupakan keluarga kerajaan Kesultanan Demak Bintoro tetapi keseganan itu bukan berarti takut karena JOKO TINGKIR sendiri mempunyai kesaktian yang cukup tinggi yang bisa mengimbangi bahkan dapat mengalahkan kesaktian ARYO PENANGSANG.

Pendapat tersebut diatas dapat diperkuat oleh sebuah kejadian dimana JOKO TINGKIR juga menjadi target yang harus disingkirkan dan dibunuh oleh ARYO PENANGSANG dan misi pembunuhan terhadap JOKO TINGKIR pun pernah coba dilakukan dengan mengirim orang-orang sakti pilihannya untuk melenyapkan JOKO TINGKIR dengan dibekali KERIS KYAI SETAN KOBER yang sakti dan merupakan pusaka andalan milik ARYO PENANGSANG.

Tetapi usaha pembunuhan terhadap JOKO TINGKIR itu pun menemui kegagalan dan tidak berhasil karena keris sakti tersebut tidak dapat melukai dan menembus tubuh JOKO TINGKIR yang mempunyai ilmu kebal.

Karena keseganan JOKO TINGKIR tersebut diatas maka dicari jalan lain untuk tetap bisa melaksanakan misi balas dendam untuk membunuh ARYO PENANGSANG maka diadakanlah sayembara dengan hadiah berupa tanah perdikan di daerah PATI dan MATARAM.

Dan pada tahun yang sama dengan tahun terbunuhnya SUNAN PRAWOTO yaitu pada tahun 1549 akhirnya ARYO PENANGSANG dapat dibunuh oleh peserta sayembara yang tidak lain adalah kakak-kakak angkat seperguruannya JOKO TINGKIR yaitu KI AGENG PAMANAHAN dan KI AGENG PENJAWI yang dibantu pula oleh anaknya KI AGENG PAMANAHAN yang bernama DANANG SUTAWIJAYA yang dikemudian masa akan menjadi seorang raja pendiri Kerajaan Kesultanan Mataram dengan gelar PANEMBAHAN SENOPATI.

Setelah ARYO PENANGSANG dapat dibunuh maka JOKO TINGKIR pun dinobatkan menjadi RAJA KESULTANAN DEMAK BINTORO ke-5 menggantikan posisi SUNAN PRAWOTO yang tahun penobatannya sebagai raja diperkirakan masih pada kisaran tahun 1549 juga atau mungkin sedikit lebih lama satu tahun yaitu di tahun 1550 setelah prahara besar yang terjadi pada keluarga kerajaan Kesultanan Demak Bintoro dengan terbunuhnya dua anggota keluarga mereka yaitu SUNAN PRAWOTO dan PANGERAN HADIRI.

Karena situasi politik di lingkungan istana kerajaan masih kurang kondusif pasca terbunuhnya ARYO PENANGSANG dengan adanya kekhawatiran akan terjadinya serangan balasan atas kematian ARYO PENANGSANG dari para pendukungnya dimana menurut analisa dan perkiraan saya, JOKO TINGKIR dan anggota keluarga Kesultanan Demak Bintoro merasa khawatir terhadap aksi balasan dari pihak SUNAN KUDUS yang merupakan guru dari ARYO PENANGSANG, maka diambil keputusan untuk memindahkan pusat kekuasaan ke Kadipaten Pajang yang merupakan wilayah tugas JOKO TINGKIR.

Kemudian kenapa kekuasaan yang diberikan kepada JOKO TINGKIR yang masih mempunyai legitimasi kekuasaan dari KESULTANAN DEMAK BINTORO diganti menjadi KESULTANAN PAJANG ? kemungkinan jawabannya berdasarkan analisa dan perkiraan saya karena adat atau pun kebiasaan yang berkembang di masyarakat Jawa untuk mengganti nama lama dengan nama baru sebagai harapan untuk membuang sial.

Dengan catatan sejarah yang tragis dan pilu yang pernah terjadi dan pernah dialami oleh keluarga kerajaan Kesultanan Demak Bintoro dengan tewasnya dan terbunuhnya beberapa anggota keluarga kerajaan yang diantaranya dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. ADIPATI UNUS / PANGERAN SEBRANG LOR yang menjadi raja
Kesultanan Demak Bintoro ke-2, tewas ketika berperang untuk mengusir
bangsa Portugis di Malaka.
2. RADEN KIKIN/PANGERAN SEDO ING LEPEN dibunuh oleh SUNAN
PRAWOTO.
3. SULTAN TRENGGONO Raja Kesultanan Demak Bintoro ke-3 yang tewas
ketika berperang dengan Panarukan, Situbondo.
4. SUNAN PRAWOTO Raja Kesultanan Demak Bintoro ke-4 yang dibunuh
oleh ARYO PENANGSANG.
5. PANGERAN HADIRI suami dari adik perempuan SUNAN PRAWOTO juga
dibunuh oleh ARYA PENANGSANG.
6. ARYO PENANGSANG sendiri terbunuh bersama ambisi dan dendamnya.

Oleh karena itu untuk menghilangkan nasib buruk yang membayangi Kesultanan Demak Bintoro maka kemungkinan ada musyawarah untuk mengganti nama kesultanan yang lama dengan nama baru. Dan karena kebetulan pada masa transisi tersebut pusat pemerintahan dipindahkan ke Kadipaten Pajang maka diambillah nama Kadipaten Pajang itu menjadi nama baru kerajaan yaitu KESULTANAN PAJANG.

Penjabaran diatas mungkin tidak mempunyai dasar yang kuat dan tidak didukung dengan fakta-fakta yang otentik tapi hal tersebut diatas hanya berdasarkan pada pemikiran & analisa logika pribadi saya semata. Saya mohon maaf kalau paparan saya tersebut kurang berkenan bagi yang membacanya. Tapi diskusi sejarah yang fakta-faktanya belum terungkap dengan jelas karena minimnya referensi maka diskusi untuk menganalisa terhadap sejarah tersebut berjalan dinamis.

Apabila rekan-rekan yang mempunyai sumber data sejarah yang lebih kuat dan jelas tentang Sejarah Kesultanan Pajang maka tidak ada salahnya untuk berbagi informasi di sini. Dan akhirnya saya ucapkan terima kasih atas perhatian yang akan rekan-rekan berikan. Salam.

Silahkan share jika post ini cukup ber manfaat
Santripiss

@kaskus | wongsokromo

Hari Santri Nasional 22 Oktober 2016


http://santripiss.blogspot.com/2017/04/hari-santri-nasional-22-oktober-2016.html

Hari Santri Nasional 22 Oktober 2016 memiliki makna dan filosofi yang besar bagi bangsa Indonesia,
bagaimana tidak, Hari Santri Nasional ditetapkan pada masa pemerintahan Presiden Jokowi, dimulai pada 22 Oktober 2015 dan berlanjut setiap tahunnya, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020, 2021, 2022, 2023, 2024, 2025, dan seterusnya.
Sehingga perlu diketahui sejarah dan latar belakang ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional.

Hari Santri adalah hari untuk memperingati peran besar kaum kiai dan santri dalam perjuangan melawan penjajahan bangsa asing, bertepatan dengan resolusi jihad Mbah KH Hasyim.

Maruf Amin mengatakan, para santri dididik oleh para ulama. Di samping dididik untuk menjadi orang yang paham betul dalam agama, tapi juga dididik menjadi Al Mujahidin, yakni orang yang menjadi pejuang dalam membela agama, membela negara.

Ada tradisi dan budaya yang unik bagi santri dalam menyambut hari tersebut. Mereka biasanya menggelar karnaval, arak-arakan atau kirab yang secara psikis akan membangkitkan kembali semangat mereka sebagai seorang santri yang punya peran besar dalam kemajuan bangsa.

Para ulama mengajarkan kita hubbul wathon minal iman, cinta tanah air sebagian dari Iman. Karena itu bagi para santri membela tanah air adalah merupakan bagian dari kewajiban jihad para santri di dalam negara Republik Indonesia.

Paling tidak yang ber anggapan Santri sangat erat hubungannya dengan teroris berkurang karna itu salah besar, mereka tidak tau Aktivitas  sebenarnya para santri.
Para santri kesehariannya disibukan dengan mengaji. muncul pertanyaan dalam benak saya '' apa ada waktu untuk mempelajari merakit BOM?'' Bahkan untuk waktu istirahat santri sangat sedikit. 

Itulah di atas sedikit mengulas Hari Santri Nasional yang telah di sah kan oleh pemerintahan kita sekarang,
Menurut saya penghargaan ini sangat penting sekali, melihat sekarang ini Santri sangat erat di hubungkan dengan teroris, Itu tidak benar sama sekali. justru Islam mengharamkan tindakan seperti itu.

Silahkan berkomentar apa pendapat kalian tentang adanya Hari Santri nasional,
Share jika dirasa bermanfaat


Santripiss